ASPEK KELESTARIAN

 

1. Rencana Pengelolaan Hutan Lestari Terpadu (ISFMP)

PT SPA Unit Serapung sebagai bagian dari APP (Asia Pulp & Paper) group menyatakan berkomitmen untuk mendukung dan melaksanakan ketentuan yang diberlakukan oleh APP dalam sustainability roadmap. PT SPA Unit Serapung telah melaksanakan moratorium penebangan hutan alam sejak 31 Januari 2013. Pada prosesnya PT SPA Unit Serapung telah melakukan beberapa studi untuk dasar perbaikan pengelolaan hutan, diantaranya yaitu:

  • Identifikasi kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi (HCV). Kawasan bernilai konservasi tinggi adalah kawasan yang memiliki satu atau lebih nilai konservasi tinggi/HCV dengan ciri-ciri mempunyai tingkat keanekaragaman hayati yang penting, bentang alam yang penting bagi dinamika ekologi secara alami, mempunyai ekosistem langka atau terancam punah, menyediakan jasa-jasa lingkungan alami, mempunyai fungsi penting untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat lokal dan fungsi penting untuk identitas budaya tradisional komunitas lokal.
  • Identifikasi areal dengan stok karbon tinggi (HCS). Studi stok karbon tinggi adalah untuk mengetahui atau membedakan areal berhutan dan/atau areal yang masih mempunyai potensi untuk berkembang sehingga bisa menjalankan fungsi ekologinya dengan area yang terdegradasi dan/atau stok karbon rendah sehingga berpotensi untuk dikembangkan sebagai hutan tanaman.
  • Identifikasi konflik lahan. Hasil pemetaan konflik lahan yang dilakukan dengan mengidentifikasi kepemilikan tanah serta hak-hak yang terdapat di dalamnya (customary rights), dapat memberikan gambaran kondisi masyarakat yang berada di dalam dan disekitar konsesi. Beberapa data penting hasil pemetaan sosial diantaranya adalah keberadaan desa yang ada sebelum atau setelah adanya konsesi, ada tidaknya tanah ulayat, pemenuhan livelihood lokal, adanya jual beli lahan didalam konsesi dan jenis konflik lainnya. Berdasarkan hasil pemetaan tersebut, perusahaan dapat menempatkan diri dalam pemilihan kebijakan dalam menyelesaikan suatu konflik dan perusahaan dapat menjalin hubungan harmonis dengan masyarakat.
  • Studi growth and yield. Studi growth and yield membantu perusahaan dalam mengetahui kondisi kesuburan tanah dan potensi kayu, sehingga perusahaan bisa mengambil tindakan dalam meningkatkan produktivitas lahan.
  • Studi lahan gambut. Studi lahan gambut diperlukan dalam perancangan (penyempurnaan) jaringan kanal (sebaran, dimensi dan spesifikasi lainnya) serta dalam melakukan manajemen air yang cocok bagi transportasi dan pertumbuhan tanaman.

PT SPA Unit Serapung telah berupaya melibatkan banyak pihak untuk memadukan hasil studi HCV, HCS, conflict mapping, growth & yield dan rencana kelola produksi melalui serangkaian tahapan, diantaranya melalui workshop, konsultasi publik, dan rangkaian kegiatan lainnya. Pihak-pihak yang dilibatkan diantaranya adalah elemen masyarakat setempat, lembaga swadaya masyarakat, akademisi dari perguruan tinggi, unsur pemerintahan, serta pihak-pihak lain yang memiliki kompetensi dan korelasi dengan pengelolaan areal kerja PT SPA Unit Serapung.  Dengan demikian, diharapkan ISFMP ini dapat dijadikan acuan dalam pengelolaan hutan dan pengambilan tindakan perbaikan yang berkelanjutan.

 

 2. Kelola Produksi

Rencana kelola produksi berdasarkan rencan RKT tahunan PT. Satria Perkasa Agung Unit Serapung dengan periode waktu pada bulan Januari - Desember. Berikut disajikan rencana kelola aspek produksi untuk tahun 2018.

No

Parameter

Rencana

Keterangan

1

Tanam (Ha)

-

Tidak ada rencana Penanaman

2

Tebang (Ha)

1.028,10

 

3

Produksi (M3)

136.566,76

 

4

Tata Batas Konsesi (km)

-

Tata Batas Konsesi PT. Satria Perkasa Agung Unit Serapung sudah temu gelang

5

Survey Permanen Sample Plot (PSP) 

587

 

 

a. Jumlah Plot

-

Tidak dilakukan Survei karena menjadi KFLEG

 

b. Luas (Ha)

-

 

6

Survey Pre Harvesting Inventory (PHI)

 

Belum direncanakan

 

a. Jumlah Plot

-

 

 

b. Luas (Ha)

-

 

 

2.1 Perencanaan

Sebagai dasar kegiatan operasional, PT. SPA Serapung menyusun Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman (RKUPHHK-HT), yang merupakan rencana pengusahaan jangka panjang.

Secara dinamis, dokumen RKUPHHK-HT menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Kerja Tahunan (RKT) perusahaan. RKT selanjutnya menjadi dasar legal di dalam melaksanakan seluruh kegiatan operasional hutan tanaman, khususnya kegiatan penebangan (harvesting) dan penanaman (plantation).

 

2.2 Tata Ruang

Pada Dokumen RKUPHHK-HTI ini terdapat perubahan tata ruang hutan tanaman.  Perubahan tata ruang disebabkan karena beberapa hal, yaitu :

  • Peta Kawasan Fungsi Ekosistem Gambut Skala 1 : 250.000 yang diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Lampiran Berita Acara No. BA.046/UHP/RKUPHT/HPL.I/3/2017 Tanggal 20 Maret 2017).
  • Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No. P.12/Menlhk-II/2015 jo. P.17/Menlhk/Setjen/ Kum.1/2/2017, tentang Pembangunan Hutan Tanaman Industri.
  • Adanya perubahan pengelolaan lingkungan pada areal hutan tanaman terutama untuk areal gambut sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan P. 16/Menlhk/Setjen/Kum.1/2/2017 tanggal 9 Februari 2016 tentang Pedoman Teknis Pemulihan Fungsi Ekosistem Gambut.

Berdasarkan pasal 8 E pada PermenLHK No. P.12/Menlhk-II/2015 jo P. 17/Menlhk/Setjen/ Kum.1/2/2017 disebutkan bahwa tanaman pokok maupun kehidupan yang berada pada fungsi lindung ekosistem gambut hanya dapat dipanen satu kali dan tidak dapat ditanami kembali serta wajib melakukan pemulihan.

 

2.3 Pembibitan

Pengadaan bibit dilakukan untuk menjamin kebutuhan bibit dalam rangka pembangunan hutan tanaman sesuai rencana pengadaannya. Bibit yang disediakan merupakan bibit berkualitas tinggi dalam jumlah yang memadai dan tata waktu yang tepat. Pengadaan bibit dilakukan di persemaian (nursery) yang berada di dalam areal kerja perusahaan. Persemaian ini di dukung dengan pengadaan terminal-terminal bibit masing-masing blok penanaman. Jumlah kebutuhan bibit dipengaruhi oleh jarak tanam, luas areal yang akan ditanami.

Sebagian besar benih berupa biji dan sebagian lainnya berupa stek pucuk (cutting implant) saat ini sedang dikembangkan perbanyakan menggunakan kultur jaringan untuk tanaman Eucalyptus sp

 

2.4 Penyiapan Lahan

Kegiatan penyiapan lahan mempunyai dua tujuan, yaitu untuk mempersiapkan lahan yang akan ditanami agar bersih dari pohon dan/atau tanaman pengganggu. Kegiatan awal penyiapan lahan berupa pembersihan lahan dari pohon, semak belukar, gulma, dan vegetasi lainnya yang tumbuh di areal tanaman. Kegiatan penyiapan lahan HTI PT. SPA Unit Serapung menerapkan prinsip Penyiapan Lahan Tanpa Bakar (PLTB).

 

2.5 Penanaman

Acacia crassicarpa untuk saat ini cocok dikembangkan di areal PT. SPA Unit Serapung, hal ini berdasarkan kepada hasil penelitian yang dilakukan oleh bagian Riset. Namun tidak menutup kemungkinan bagi perusahaan untuk mengembangkan tanaman lain sebagai tanaman pokok. Penanaman dilakukan secara manual dan dilakukan secara rutin setiap tahun. Penanaman dilakukan pada petak yang telah dilakukan pengukuran, jarak tanam yang diatur sesuai dengan kaidah silvikultur,  jarak tanam yang dibuat adalah 3 m x 2 m.

 

2.6 Pemeliharaan

Kegiatan pemeliharaan tanaman mengacu pada Standard Operating Procedure meliputi kegiatan pemupukan, penyulaman, pemangkasan cabang (singling), dan penyiangan (weeding). Jadwal pelaksanaan pemeliharaan tanaman (luas dan waktunya) mengikuti jadwal penanaman dan jadwal teknis silvikultur HTI.

 

2.7 Monitoring Kelola Produksi

Upaya monitoring kegiatan perusahaan dilakukan dengan membuat pelaporan maupun dokumentasi agar apa yang dilakukan dapat terekam dengan baik. Sehingga kineja perusahaan menjadi terkontrol dengan baik pula. Adapun monioring dan evaluasi dilakukan pada masing-masing aspek.

Tabel Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Produksi Tahun 2017

No

Parameter

Rencana

Realisasi

Persentase

1

Tanam (Ha)

1.745,62

957,72

54,86%

2

Tebang (Ha)

1.745,62

1.745,62

100%

3

Produksi (M3)

273.949,20

267.923,30

 97,80%

4

Tata Batas Konsesi (km)

-

-

Tata Batas Konsesi PT. Satria Perkasa Agung Unit Serapung sudah temu gelang

5

Survey Permanen Sample Plot

Jumlah Plot

70 

 70

100%

Luas (Ha)

 343

343 

100%

6

Survey Pre Harvesting Inventory

Jumlah Plot

 465

465 

100% 

Luas (Ha)

 1.136

 1.136

 100%

 

ASPEK EKOLOGI

a. Pengelolaan Kawasan Lindung

Keberadaan kawasan lindung PT. Satria Perkasa Agung Unit Serapung  penting artinya bagi kelestarian kualitas lahan dan air serta kelestarian keanekaragaman hayati, mengingat secara makro areal ini merupakan areal gambut.

Tabel Jenis Kawasan Lindung di PT. SPA Unit Serapung

No

Jenis Kawasan Lindung

Luas (ha)

1

Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah (KPPN)

34

2

Daerah Perlindungan satwa Liar (DPSL)

1.075

3

Sempadan Sungai

281

4

Jasa Lingkungan

441

5

Fungsi Ekosistem Gambut

9759

Sumber: Dokumen RKUPHHK-HTI PT. SPA Unit Serapung periode 2017-2026

b. Pengelolaan dan Pemantauan NKT

Perusahaan telah melaksanakan identifikasi NKT yang dilakukan oleh konsultan APCS  (Asia Pacific Consulting Solution). Dari hasil identifikasi tersebut terdapat NKT pada areal kawasan PT. SPA Unit Serapung baik itu NKT 1-6. Berikut disajikan tabel hasil identifikasi NKT.

Tabel Keberadaan Nilai Konservasi Tinggi di Areal PT. SPA Unit Serapung

c. Pengelolaan dan Pemantauan Flora dan Fauna

Vegetasi yang menyusun ekosistem hutan gambut merupakan spesies-spesies tumbuhan yang selalu hijau. Spesies-spesies pohon yang banyak dijumpai di dalam ekosistem hutan gambut antara lain Dyera spp., Durio carinatus, Palaquium spp., Tristania stenostachys, Dyosporus sp., dan Shorea spp.

Jenis pohon yang ditemukan di PT. SPA Unit Serapung yang merupakan jenis penyusun komposisi hutan ini diantaranya arang-arang (Dyospora sp.), kelubi/asam paya (Eleidoxa conferta), kempas (Koompassia malaccensis), nyatoh (Palaquium hexandrium H.J.L), nyatoh (Payena acuminata), belawan (Tristaniopsis whiteana), punak (Tetramirista glabra), terentang (Camnosperma macrophylla) dan geronggang (Cratoxylon sp.). Ancaman kebakaran hutan merupakan gangguan yang paling mengancam atas keberadaan hutan pada ekosistem ini dan sekitarnya.

Jenis-jenis pohon yang terancam punah yang ditemukan pada areal kerja PT SPA Unit Serapung ini adalah jenis mersawa (Anisoptera marginata), seminai (Ganua motleyana), manggis hutan (Garcina sp.), ramin (Gonystylus bancanus), jelutung (Dyera costulata), kantong semar (Nepentes ampullaria), suntai (Palaquium walsurifolium), meranti lilin (Shorea teymannianna), meranti buaya (Shorea uliginosa), meranti merah (Shorea platycarpa) dan resak (Vatica lowii).

Jenis satwa liar yang dijumpai di areal kerja adalah kelas mamalia, aves maupun herpetofauna (reptilia dan amphibia). Satwa liar yang ditemukan tersebut merupakan jenis yang dilindungi (berdasarkan IUCN, CITES dan PP No. 7/1999) maupun tidak dilindungi keberadaanya.

Tabel  Jenis Satwa yang teridentifikasi di areal kerja PT SPA Unit Serapung 

No

Nama Ilmiah

Nama Lokal

Status Konservasi

IUCN

CITES

PP No7/1999

Mamalia

1.

Macaca fascicularis

Monyet ekor panjang

-

App. II

-

2.

Helarctos malayanus

Beruang Madu

VU

App. I

3.

Cervus unicolor

Rusa Sambar

VU

App. II

4.

Sus scrofa

Babi hutan

LC

-

-

5.

Hylobates agilis

Ungko

EN

App. I

6.

Nycticebus coucang

Kukang

VU

App. I

7.

Lutra sumatrana

Berang-Berang

EN

-

8.

Panthera tigris sumatrae

Harimau

EN

App. II

9.

Tragulus javanicus

Kancil

DD

-

10.

Paradoxurus hermaphroditus

Musang Luwak

LC

-

-

11.

Callosciurus notatus

Bajing Kelapa

LC

-

-

12.

Sus barbatus

Babi Jenggot

VU

-

-

13.

Maxomys surifer

Tikus Duri Merah

LC

-

-

14.

Arctogalidia trivirgata

Musang Akar

LC

-

-

15.

Niviventer rapit

Tikus Pohon Ekor Panjang

LC

-

-

16.

Manis javanicus

Trenggiling

-

-

17.

Ratufa bicolor

Tupai

NT

-

-

18.

Hylobates syndactylus

Siamang

EN

-

-

19.

Cynogale benneti

Musang

-

-

20.

Macaca nemestrina

Beruk

VU

-

 

Aves

Nama Ilmiah

Nama Lokal

Status Konservasi

 

PP 7/1990

IUCN

App

 

Leptoptilos javanicus

Bangau Tongtong

-

VU

-

 

Eugretta eulophotes

Kuntul Cina

-

VU

-

 

Anthracoceros malayanus

Kangkareng Hitam

NT

II

 

Aceros undulates

Julang Emas

-

II

 

Circus aeruginosus

Elang Rawa Katak

-

II

 

Haliastur Indus

Elang Bondol

-

II

 

Gracula religiosa

Tiong Emas

-

II

 

Anthreptes singalensis

Burung Madu- kelapa

-

-

 

Arachnothera flavigaster

Pijantung Tasmak

-

-

 

Arachnothera longirostra

Pijantung kecil

-

-

 

Halcyon chloris

Cekakak sungai

-

-

 

Halcyon smyrnensis

Cekakak belukar

-

-

 

Nectarinia jugularis

Burung madu sriganti

-

-

 

Rhipidura javanica

Kipasan Belang

-

-

 

Eurylaimus ochromalus

Sempur hujan darat

-

NT

-

 

Stachyris erythoptera

Tepus kaban

-

NT

-

 

Macronous ptilous

Ciung air pongpong

-

NT

-

 

Bubulcus ibis

Kuntul Kerbau

-

LC

-

 

Accipiter novaehollandiae

Alap-alap

LC

-

 

Streptopelia chinensis

Balam

-

-

-

 

Centropus sinensis

But-But

-

LC

-

 

Nisaetus cirrhatus

Elang Brontok

LC

-

 

Ictinaetus malayensis

Elang Hitam

LC

-

 

Spilornis cheela

Elang Ular Bido

LC

-

 

Fregeta andrewsi

Srigunting

-

-

 

Loricus galgulus

Serindit

-

-

 

Amaurornis phoenicurus

Ruak-ruak

-

LC

-

 

Corvus corax

Gagak

-

LC

-

 

Cairina scutulata

Mentok Rimba

EN

-

 

Dendrocygna javanica

Belibis

-

LC

-

 

 

 

Herpetofauna

No.

Nama Ilmiah

Nama Lokal

Status Konservasi

IUCN

CITES

PP No. 7 1999

1.

Eutropis rudis

Kadal Serasah Cokelat

-

-

-

2.

Eutropis multifasciata

Kadal Kebun

-

-

-

3.

Rhacophorus cyanopunctatus

Katak pohon Bintik Biru

-

-

-

4.

Polypedates macrotis

Katak pohon Telinga Gelap

-

-

-

5.

Polypedates colletti

Katak pohon Jam Pasir

-

-

-

6.

Hylarana glandulosa

Katak

-

-

-

7.

Ingerophrynus quadriforcatus

Kodok

-

-

-

8.

Cyrtodactylus quadrilineatus

Tokek

-

-

-

9.

Dendrelaphis formosus

Ular Tali

-

-

-

10.

Varanus salvator

Biawak

LC

-

11.

Ahaetulla nasuta

Ular Daun

-

-

-

12.

Dendralaphis pictus

Ular Lidi

-

-

-

13.

Phyton morulus

Ular Sanca

-

-

14.

Boiga dendrophilla

Ular Tiung

-

-

-

Keterangan : CR = Critically endangered (hampir punah), EN = Endangered (genting), VU = Vulnerable (rentan), LC = Least Concern (beresiko rendah), NT= Near Threatened (mendekati keterancaman), DD=Data Deficient (kurang data). CITES Appendix I = Jenis yang tidak boleh/dilarang diperdagangkan baik hidup/mati, Appendix II = Jenis dapat diperdagangkan dengan batasan kuota atas data akurat kecendrungan di alam.

d. Pengelolaan Limbah B3

Kegiatan pembangunan HTI di PT. SPA Unit Serapung menimbulkan dampak positif dan negatif. Salah satu dampak yang terjadi akibat kegiatan ini adalah Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Apabila tidak dikelola dengan baik akan mengakibatkan pencemaran terhadap lingkungan dan mengganggu kelangsungan hidup mahluk hidup disekitarnya. PT. SPA Unit Serapung sudah ada tempat penyimpanan Limbah B3 secara permanen, Pengelolaan Limbah B3 telah diatur dalam SOP-SPAS-E2-008 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.

e. Kegiatan Rehabilitasi

Komitmen perusahaan terhadap areal kawasan lindung adalah dengan menjaga dan merawat kawasan tersebut. Pengelolaan areal yang rusak pada kawasan lindung yaitu dengan dilakukan proses rehabilitasi. PT. SPA Unit Serapung melakukan kegiatan rehabilitasi untuk areal-areal yang teridentifikasi terdegradasi.Hal ini bertujuan untuk menjaga kualitas kawasan lindung yang bernilai tinggi dapat terus terjaga dengan baik.

f. Perlindungan Hutan

Beberapa potensi gangguan terhadap kawasan hutan areal kerja adalah bahaya serangan hama dan penyakit, bahaya kebakaran hutan, bahaya pencurian kayu hutan tanaman, penebangan liar kayu alam di kawasan lindung, tanaman unggulan setempat dan tanaman kehidupan serta gangguan akibat tekanan terhadap lahan (konversi lahan).

g. Pengelolaan Gambut

APP membuat komitmen untuk mendukung Pemerintah Indonesia dalam pengembangan rendah emisi serta pengurangan emisi gas rumah kaca. Komponen utama dalam mencapai komitmen APP untuk melindungi lahan gambut dan memastikan bahwa APP dan para pemasoknya mengelola lahan gambut berdasarkan praktik terbaik. Pengembangan manajemen 'praktik terbaik' akan membantu dalam mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) atau  Green House Gas (GHG) dari lansekap lahan gambut dimana para pemasok kayu pulp kami beroperasi.

Sesuai dengan komitmen ini, para pemasok pulpwood APP menghentikan pengembangan penanaman, pembangunan kanal, dan infrastruktur lainnya dalam konsesi pemasok di lahan gambut yang tidak berhutan sampai penilaian Nilai Konservasi Tinggi (NKT) selesaidengan memperhatikan masukan dari para ahli gambut. Rencana pembangunan apapun di masa mendatang di wilayah juga akan mengikuti praktik pengelolaan terbaik.

Pada bulan Januari 2014, APP membentuk Peat Expert Team (PET) untuk penyusunan pengelolaan “praktik terbaik” untuk lansekap gambut dimana para pemasok pulpwood APP beroperasi. PET memiliki anggota yang diakui secara internasional yaitu Wagenigen University di Belanda, Deltares dan Euroconsult Mott MacDonald, semua ahli ini memiliki pengalaman yang luas mengenai lahan gambut di Indonesia.

Dasar pengelolaan “praktek terbaik” ini adalah agar kita mempunyai pemahaman yang baik tentang sifat lahan gambut di lanskap tempat kita beroperasi. Kita melakukan LiDAR mapping (LIDAR adalah Light Detection And Ranging, metode survey udara yang menggunakan gelombang cahaya laser yang dapat mengukur jarak ke permukaan bumi. Gelombang cahaya laser dikombinasikan dengan data survey udara – menghasilkan data yang tepat tentang informasi tiga dimensi tentang bentuk bumi dan karakteristik permukaan bumi.)sebanyak 2 tahap. Tahap pertama selesai di tahun 2015 mencakup 4.5 juta hektar area di Sumatera dan Kalimantan.Dari hasil LiDAR pertama APP melakukan penon-aktifan (retire) area gambut di pemasoknya seluas 7,000 hektar dan membangun kanal untuk menjaga ketinggian permukaan air di lahan gambut.

Hasil LiDAR kedua selesai di tahun 2017, hasil pemetaan LiDAR kedua ini memberikan grid yang lebih halus dan resolusi tinggi serta zonasi air.Kami bekerjasama dengan Deltares masih melakukan kajian apakah LiDAR dapat digunakan sebagai alat monitoring permukaan air di lahan gambut.

Terkait dengan peraturan pemerintah yang baru tentang pengelolaan gambut, APP akan taat dan mengikuti peraturan tersebut dan melakukan revisi tata ruang UMH yang memiliki lahan gambut. Proses persetujuan tata ruang UMH yang baru dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia masih berlangsung.

 h. Fire Management

Areal konsesi PT. Satria Perkasa Agung Unit Serapung 100% beada dizona basah (Gambut). Potensi bahaya kebakaran hutan di areal kerja tergolong besar. Hal ini disebabkan oleh faktor iklim, kondisi lahan, dan faktor sosial. Dari faktor iklim dan kondisi lahan, walaupun secara makro areal kerja beriklim sangat basah, namun secara mikro (harian) memungkinkan kondisi kering yang beturut-turut selama beberapa hari. Hal ini cukup untuk membuat serasah dan gambut bagian atas untuk kering dan mudah terbakar.

Dari segi sosial, masyarakat yang sebagian diantaranya masih menerapkan sistem pembakaran untuk membuka lahan pada musim kemarau juga membawa potensi kebakaran. Potensi ini menjadi lebih besar lagi karena terdapat bagian areal hutan tanaman yang berbatasan langsung dengan lahan masyarakat. Oleh sebab itu, PT. Satria Perkasa Agung Unit Serapung melakukan pendekatan-pendekatan secara sosial maupun secara teknis dilapangan.

PT. Satria Perkasa Agung Unit Serapung memiliki Komitmen yang sangat serius terkait Kebakaran Hutan dan lahan, baik itu kebakaran yang terjadi didalam kawasan konsesi atau pun diluar kawasan konsesi yang diimplementasikan dalam sebuah Kebijakan Pencegahan KARHUTLA sebagai berikut:

  1. Mematuhi semua peraturan perundangan yang terkait  pencegahan kebakaran lahan dan hutan.
  2. Konsisten terhadap pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) dalam semua tahapan kegiatan pembangunan hutan tanaman.
  3. Melakukan perlindungan areal konsesi perusahaan dari bahaya kebakaran untuk memastikan   keberlanjutan usaha dalam jangka panjang dan kelestarian sumber daya alam.
  1. Secara terus menerus meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dan peralatan untuk pencegahan dan penanggulangan kebakaran lahan dan hutan.Secara aktif melibatkan semua karyawan, mitra kerja serta masyarakat di sekitar konsesi perusahaan untuk terus menerus melakukan pencegahan kebakaran lahan dan

Selain dari kebijakan tersebut, untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan disekitar wilayah konsesinya, ASIA PULP & PAPER (APP) dan Sinarmas Forestry merancang sebuah sistem terintegrasi yang disebut dengan Integreted Fire Management (IFM). Terdapat 4 pilar utama dalam IFM ini, yaitu:

1. Pencegahan

  • Program DMPA : Landasan utamanya adalah dengan memanfaatkan bidang agroforestri, masyarakat diarahkan dan dibina untuk berdaya dan sejahtera secara sosial-ekonomi dengan memanfaatkan sumber daya (alam dan manusia) yang sesuai dengan potensi dan karakteristik lokal.
  • Tata Kelola Air : Untuk mengurangi resiko kebakaran dilahan gambut APP dan SMF Group bekerjasama dalam memperbaiki tata kelola lahan gambut dengan cara menaikkan ketinggian air dikanal perimeter konsesi.
  • Insentif untuk Masyarakat Peduli Api (MPA) : Mengikut sertakan masyarakat sekitar konsesi HTI untuk melakukan patroli pencegahan kebakaran, selain sejumlah uang, masyarakat juga diberikan insentif berupa peralatan dan pelatihan dalam pemadaman kebakaran.

 

2. Persiapan

  • Incident Command System (ICS) : Merupakan perangkat/sistem yang mengatur garis komando, perencanaan, operasi, logistik, dan administrasi dalam sebuah situasi darurat.
  • Situation Room Center (SRC) : Ruang kontrol yang melakukan deteksi dini kebakaran secara real time 24 jam non-stop diwilayah konsesi SMF Group melalui pengolahan data dari citra satelit yang diverifikasi oleh petugas lapangan.
  • Pemetaan Jalur Patroli : Intensitas patroli disesuaikan dengan informasi tentang potensi kebakaran dari situation room dan panduan FDRS dari gabungan data cuaca, angin, dan kelembaban udara.
  • Kesiagaan RPK : Sebanyak 2700 personel RPK yang telah tersertifikasi Manggala Agni senantiasa bersiaga di 266 pos pantau, tim RPK juga dilengkapi dengan 500 unitmobil patroli, 160 unit mobil pemadam kebakaran, dan 1150 unit pompa air.

 

3. Deteksi Dini

  • Deteksi Wilayah Kebakaran : Deteksi dilakukan oleh tiap distrik diwilayah konsesi berdasarkan informasi yang didistribusikan oleh Situation Room. Hal ini untuk memastikan apakah hotspot tersebut adalah titi apai atau bukan, maka petugas mengecek langsung kelapangan.
  • Citra Thermal : Alat ini digunakan untuk mendeteksi titik titik api dilahan gambut. Bekerja dengan menangkap perbedaan suhu ekstrim dipermukan tanah. Begitu panas terdeteksi, maka sistem akan mengirimkan data real yang kemudian disatukan dalam petak konsesi sehingga lokasi titik apai akan langsung terlihat disistem.
  • Pemantauan dari Ketinggian : Dilakukan melalui Menara Api yang tersebar di 80 titik dengan ketinggian kurang lenih 30 meter.

 

4. Respon Cepat

  • Komando dan Kontrol : Manajemen terpadu dalam menghadapi situasi darurat, dari mulai pihak Situation Room, Logistik peralatan, petugas RPK dilapangan, semua bergerak mengikuti garis komando yang telah ditetapkan.
  • RPK : Tim RPK secara intensif akan melakukan upaya pemadaman secara bergantian tanpa mengenal libur. Jika lokasi sulit dijangkau melalui jalan darat, akan dikirimkan tim pemadam kebakaran menggunakan helikopter.
  • Helikopter Water-boombing : Untuk menjangkau wilayah yang lebih sulit secara geografis, disediakan helikopter biasa 3 unt, dan helikopter besar jenis Super Puma 3 Unit untuk melakukan Water-boombing diareal kebakaran.

Kelola Sosial

Potensi dan Kondisi Desa 

Secara umum desa-desa yang ada didalam dan sekitar operasional perusahaan memiliki potensi untuk dikembangkan terutama pada sektor pertanian, perkebunan dan hutan tanaman industri. Sumber penghasilan masyarakat desa berasal dari pertanian, perikanan, nelayan dan pengambilan hasil hutan. Komoditi yang banyak dibudidayakan masyarakat adalah tanaman padi, hortikultura dan tanaman perkebunan (karet dan sawit) dan sagu.

Sasaran kegiatan pemberdayaan masyarakat adalah desa-desa yang berdekatan dengan areal konsesi perusahaan. Terdapat satu desa yang berada tidak jauh dari areal konsesi atau memiliki akses ke lokasi perusahaan yaitu Desa Serapung. Sebenarnya Desa Serapung dan areal konsesi perusahaan berada pada pulau yang berbeda dimana Desa Serapung masih berada di daratan pulau Sumatera sedangkan areal konsesi berada di pulau tersendiri. Namun warga Desa Serapung memiliki kebun kelapa dan sagu di sekitar konsesi perusahaan.

Aksesibilitas menuju daerah ini hanya melalui transportasi air karena berada di muara Sungai Kampar dan Selat Panjang, sehingga desa-desa tersebut terisolir.  Desa lain yang termasuk binaan PT. SPA-Serapung adalah Desa Labuhan Bilik dan Teluk Dalam walaupun jaraknya cukup jauh. Karena kedua desa tersebut berada di pulau yang berbeda, namun masih memiliki akses ke daerah operasional perusahaan. Di daerah ini cukup potensial untuk dikembangkan tanaman sagu, kelapa, padi dan tanaman kehutanan.

Rencana Pemberdayaan Masyarakat
A. Program Training Centre dan Pertanian Terpadu

Untuk menunjang peningkatan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat dibidang pertanian, telah dibangun gedung Balai Pelatihan dan Pengembangan Masyarakat (BPPM) di Desa Pinang Sebatang Barat yang dilengkapi dengan sarana pendukung seperti ruang training, pendopo, mess dan areal pembibitan dan lahan percobaan dengan luas keseluruhan ± 20 ha. Balai Pelatihan dan Pengembangan Masyarakat ini menjadi tempat pelatihan pertanian bagi masyarakat sekitar HTI dan kalangan pelajar/Perguruan Tinggi.

B. Program Pengembangan Hasil Hutan Non Kayu

Pengembangan hasil hutan non kayu yaitu budidaya lebih madu, dimana terdapat desa-desa sekitar HTI yang memiliki lebah madu alam (sialang) yang belum dikelolah dengan baik sehingga hasilnya tidak optimal. Perusahaan akan membantu peningkatan kwalitas lebah madu produksi masyarakat dalam hal packing, promosi dan pengembangan ternak lebah lokal.

C. Pengembangan Sentra Hortikultura dan Peternakan

Untuk peningkatan pendapatan masyarakat dan secara bertahap memotivasi minat masyarakat untuk bertani, maka perusahaan akan mengembangkan sentra-sentra produksi (pertanian, perikanan dan peternakan) didesa-desa sekitar konsesi sesuai dengan potensi yang ada.

D. Bidang Pendidikan

Perusahaan akan memberikan bantuan subsidi pendidikan dan tambahan honor guru khususnya untuk guru honorer yang mengabdi di desa-desa sekitar hutan tanaman.  Serta juga pemberian bantuan beasiswa untuk anak-anak yang kurang mampu tetapi berprestasi. Peningkatan kwalitas SDM menjadi sasaran utama perusahaan dalam rangka meningkatkan taraf hidup dan pengentasan kebodohan dan keterbelakangan masyarakat desa sekitar operasional perusahaan.

E. Pembinanaan Sosial dan Budaya

F. Kegiatan Keagamaan

G. Pembangunan Infrastruktur

Pembangunan infrastruktur meliputi pengadaan sarana-prasarana desa dan pembangunan/ perbaikan jalan, aspalisasi, jembatan, kanal, tapak bangunan dan lapangan bola kaki dengan menggunakan alat berat. Pengadaan sarana prasarana meliputi pembangunan kantor desa dan peralatannya, dan lain sebagainya.