ASPEK KELESTARIAN

 

1. Rencana Pengelolaan Hutan Lestari (ISFMP).

PT Satria Perkasa Agung sebagai bagian dari Asia Pulp & Paper (APP) group dan menyatakan berkomitmen untuk mendukung dan melaksanakan ketentuan yang diberlakukan oleh APP dalam sustainability roadmap. PT Satria Perkasa Agung telah melaksanakan moratorium penebangan hutan alam sejak 31 Januari 2013. Pada prosesnya PT Satria Perkasa Agung telah melakukan beberapa studi untuk dasar perbaikan pengelolaan hutan, diantaranya yaitu:

  • Identifikasi kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi (HCV).High Conservation Value (HCV) kawasan yang memiliki satu atau lebih Nilai Konservasi Tinggi (NKT) dengan ciri-ciri mempunyai tingkat keanekaragaman hayati yang penting, bentang alam yang penting bagi dinamika ekologi secara alami, mempunyai ekosistem langka atau terancam punah, menyediakan jasa-jasa lingkungan alami, mempunyai fungsi penting untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat lokal dan fungsi penting untuk identitas budaya tradisional komunitas lokal.
  • Identifikasi areal dengan stok karbon tinggi (HCS).Studistokkarbon tinggiadalah untuk mengetahui atau membedakan areal berhutan dan/atau areal yang masih mempunyai potensi untuk berkembang sehingga bisa menjalankan fungsi ekologinya dengan area yang terdegradasi dan/atau carbon stock rendah sehingga berpotensi untuk dikembangkan sebagai hutan tanaman.
  • Identifikasi konflik lahan. Hasil pemetaan konflik lahan yang dilakukan dengan mengidentifikasi kepemilikan tanah serta hak-hak yang terdapat didalamnya (customary rights), dapat memberikan gambaran kondisi masyarakat yang berada di dalam dan di sekitar konsesi. Seperti informasi keberadaan desa yang ada sebelum atau setelah adanya konsesi, ada tidaknya tanah ulayat, pemenuhan livelihood lokal, adanya jual beli lahan di dalam konsesi dan jenis konflik lainnya. Dari hasil pemetaan tersebut, perusahaan dapat menempatkan diri dalam pemilihan kebijakan dalam menyelesaikan suatu konflik dan perusahaan dapat menjalin hubungan harmonis dengan masyarakat.
  • Studi Growth and Yield. Studi growth and yield membantu perusahaan dalam mengetahui kondisi kesuburan tanah dan potensi kayu.Dari hasil studi ini, perusahaan bisa mengambil tindakan dalam meningkatkan produktivitas lahan.
  • Studi Lahan Gambut. Studi lahan gambut diperlukan dalam perancangan (penyempurnaan) jaringan kanal (sebaran, dimensi dan spesifikasi lainnya), serta dalam melakukan manajemen air yang cocok bagi transportasi dan pertumbuhan tanaman.

Untuk mempermudah implemantasinya, perusahaan menyusun  sebuah   dokumen  perencanaan pengelolan hutan lestari yang  terintegrasi (Integrated Sustainable Forest Management Plan) yang memadukan berbagai hasil kajian dalam sebuah dokumen, sebagai acuan dalam kegiatan pengelolaan hutan lestari.

 

2. Kelola Produksi

Kelola produksi berkomitmen  menghasilkan dan menyediakan bahan baku kayu secara berkelanjutan dengan menerapkan prinsip-prinsip   pengelolaan hutan lestari.

Rencana kelola produksi berdasarkan rencan RKT tahunan, namun untuk RKT PT. SPA memiliki periode waktu pada bulan Januari-Desember. Berikut disajikan rencana kelola aspek produksi untuk tahun 2018.

Tabel Rencana Pengelolaan aspek produksi tahun 2018

No

Parameter

Rencana

Keterangan

1

Tanam (Ha)

-

 

2

Tebang (Ha)

8.006,71

 

3

Produksi (M3)

1.452.542,77

 

4

Tata Batas Konsesi (km)

-

Tata batas definitif telah

selesai dilaksanakan temu

gelang pada tahun 2006 dan telah telah ditetapkan (sesuai SK Menhut No.633 tahun 2009

5

Survey Permanen Sample Plot (PSP) 

a. Jumlah Plot

-

Tidak dilakukan Survei karena menjadi KFLEG

b. Luas (Ha)

-

6

Survey Pre Harvesting Inventory (PHI) 

a. Jumlah Plot

-

Belum direncanakan

b. Luas (Ha)

-

 

2.1 Perencanaan

Sebagai dasar kegiatan operasional, PT. SPA telah menyusun Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman (RKUPHHK-HT). RKUPHHK ini menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Kerja Tahunan (RKT) perusahaan. RKT selanjutnya menjadi dasar legal di dalam melaksanakan seluruh kegiatan operasional hutan tanaman.

2.2 Tata Ruang

  1. SPA mengalami Perubahan tata ruang hal ini disebabkan karena beberapa hal, yaitu :
  • Peta Kawasan Fungsi Lindung Ekosistem Gambut Skala 1 : 250.000 yang diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Lampiran Berita Acara No. BA.047/UHP/RKUPHT/HPL.I/3/2017 Tanggal 20 Maret 2017).
  • Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No. P.12/Menlhk-II/2015 jo. P.17/Menlhk/Setjen/Kum.1/2/2017, tentang Pembangunan Hutan Tanaman Industri.

Berdasarkan pasal 8 E pada Permen LHK No. P.12/Menlhk-II/2015 jo P. 17/Menlhk/Setjen/ Kum.1/2/2017 disebutkan bahwa tanaman pokok maupun kehidupan yang berada pada fungsi lindung ekosistem gambut hanya dapat dipanen satu kali dan tidak dapat ditanami kembali serta wajib melakukan pemulihan.

2.3 Pembibitan

Pengadaan bibit dilakukan untuk menjamin kebutuhan bibit dalam rangka pembangunan hutan tanaman sesuai rencana pengadaannya. Bibit yang disediakan merupakan bibit berkualitas tinggi dalam jumlah yang memadai dan tata waktu yang tepat.Pengadaan bibit dilakukan di persemaian (nursery) yang berada di dalam areal kerja perusahaan. Persemaian ini di dukung dengan pengadaan terminal-terminal bibit masing-masing blok penanaman. Jumlah kebutuhan bibit dipengaruhi oleh jarak tanam, luas areal yang akan ditanami.

Sebagian besar benih berupa biji dan sebagian lainnya berupa stek pucuk (cutting implant) saat ini sedang dikembangkan perbanyakan menggunakan kultur jaringan untuk tanaman Eucalyptus sp. Namun dikarenakan regulasi dari pemerintah terkait restorasi gambut, perusahaan sudah tidak melakukan pembibitan sejak peraturan tersebut disahkan tahun 2017 hingga saat ini.

 2.4 Penyiapan Lahan

Kegiatan penyiapan lahan mempunyai dua tujuan, yaitu untuk mempersiapkan lahan yang akan ditanami agar bersih dari pohon dan/atau tanaman pengganggu. Kegiatan awal penyiapan lahan berupa pembersihan lahan dari pohon, semak belukar, gulma, dan vegetasi lainnya yang tumbuh di areal tanaman. Kegiatan penyiapan lahan HTI PT. SPA menerapkan prinsip Penyiapan Lahan Tanpa Bakar (PLTB).

2.5 Penanaman

Acacia crassicarpa untuk saat ini cocok dikembangkan di areal PT. SPA, hal ini berdasarkan kepada hasil penelitian yang dilakukan oleh bagian Riset. Namun tidak menutup kemungkinan bagi perusahaan untuk mengembangkan tanaman lain sebagai tanaman pokok. Penanaman dilakukan secara manual dan dilakukan secara rutin setiap tahun. Penanaman dilakukan pada petak yang telah dilakukan pengukuran, jarak tanam yang diatur sesuai dengan kaidah silvikultur,  jarak tanam yang dibuat adalah 3 m x 2 m.

 2.6 Pemeliharaan

Kegiatan pemeliharaan tanaman mengacu pada Standard Operating Procedure meliputi kegiatan pemupukan, penyulaman, pemangkasan cabang (singling), dan penyiangan (weeding). Jadwal pelaksanaan pemeliharaan tanaman (luas dan waktunya) mengikuti jadwal penanaman dan jadwal teknis silvikultur HTI.

2.7 Monitoring Kelola Produksi

Upaya monitoring kegiatan perusahaan dilakukan dengan membuat pelaporan maupun dokumentasi agar apa yang dilakukan dapat terekam dengan baik. Sehingga kineja perusahaan menjadi terkontrol dengan baik pula. Adapun monioring dan evaluasi dilakukan pada masing-masing aspek.

Tabel  Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Produksi Tahun 2017

Kegiatan

Distrik

Rencana

Realisasi

Persentase (%)

Pembibitan

 

SimpangKanan

14.018.216

5.230.385

37,31%

Siakkecil

544.295

544.295

100%

Total Bibit SPA

 

14.562.510

5.774.679

39,65 %

Penanaman

 

SimpangKanan

7.643,52

2.851,90

37,31%

Siak Kecil

296,78

296,78

100%

Total Tanam SPA

 

7.940,30

3.148,68

39,64%

Pemanenan

 

Simpangkanan

7.369,30

6.199,79

84,13%

Siak Kecil

214,88

214,88

100%

Total Tebang SPA

 

7.584,18 

6.414,67 

 84,58 %

Total Produksi SPA

 

 1.344.592,94

 1.057.860,23

 78,68 %

 

ASPEK LINGKUNGAN

Dasar kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan PT. SPA yaitu berdasarkan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dan Dokumen AMDAL yang telah disetujui oleh Komisi Pusat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Departemen Kehutanan dan Perkebunan No. 73/DJ-IV/AMDAL/1999 pada tanggal 09 Juni 1999.

a. Pengelolaan Kawasan Lindung

Kawasan lindung yang terdapat di areal PT. SPA yaitu berupa kawasan lindung Sempadan Sungai Simpang Kanan dan Sempadan Sungai Gaung Kanan, Daerah Perlindungan Satwa Liar (DPSL), Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah (KPPN), Kawasan Lindung Gambut dan Jasa lingkungan. Areal ini memiliki fungsi sebagai koridor satwa di dalam konsesi dan dengan kawasan hutan disekitarnya

b. Pengelolaan dan Pemantauan Flora dan Fauna

Pada areal kawasan lindung terdapat sejumlah jenis flora dan fauna yang tersebar di sekitar areal berhutan Diatara flora dan fauna tersebut teridentifikasi jenis-jenis yang dilindungi berdasarkan CITES, IUCN, serta peraturan lokal yang mengaturnya.

Berdasarkan kondisi tegakan hutannya, hutan rawa gambut disini merupakan hutan sekunder.Tegakan vegetasi tampak seumur, membentuk rangkaian kanopi yang rata setinggi kurang lebih 20 meter jika di lihat dari luar hutan, pohon-pohon jarang yang mencapai diameter 30 cm, sedangkan tingkat semai dan pancang tumbuh sangat rapat.

Jenis pohon yang dilindungi yang ditemukan pada ekosistem rawa gambut ini adalah jenis meranti (Shorea sp.),garam-garam (Combretocarpus rotundatus), palem merah (Crystostachis renda), bengku (Ganua motleyana), ramin (Gonystylus bancanus), kantong semar (Nepenthes sp.), balam hitam (Palaquium burckii), suntai (Palaquium walsurifolium), dan resak (Vatica lowii).Jenis meranti yang ditemukan di areal kerja adalah meranti sabut (Shoreabracteolata), meranti lilin (Shorea teymanniana), meranti paya (Shorea platycarpa) dan meranti buaya (Shorea uliginosa).  Jenis kantong semar yang terdapat di areal kerja antara lainNephentes mirabilism, Nepenthes ampullariadan Nepenthes rafflesiana.

Jenis-jenis fauna yang ada di areal PT. SPA adalah sebagaimana disajikan pada tabel berikut.

Tabel Jenis Fauna di PT. SPA

No.

Nama Ilmiah

Nama Lokal

Status Konservasi

IUCN

CITES

PP No. 7/1999

Mamalia

1.

Tragulus napu

Napu

LC

-

2.

Neofelis nebulosa

Macan dahan

VU

App. I

3.

Tragulus javanicus

Kancil

DD

-

4.

Felis marmorata

Kucing hutan

LC

App. I

5.

Hylobates agilis

Ungko

EN

App. I

6.

Manis javanica

Trenggiling

EN

App. I

7.

Cynopterus brachiotis

Kelelawar

LC

-

-

8.

Rattus sp.

Tikus hutan

-

-

-

9.

Ratufa bicolor

Jelarang

NT

App. II

10.

Macaca nemestrina

Beruk

VU

-

-

11.

Macaca fascicularis

Monyet ekor panjang

-

App. II

-

12.

Helarctos malayanus

Beruang Madu

VU

App. I

13.

Sus scrofa

Babi hutan

LC

-

-

14.

Presbytis melalophos

Simpai atau Surili sumatera

EN

App. II

-

15.

Phantera tigris sumatrae

Harimau sumatera

CR

App. I

16.

Nycticebus coucang

Kukang

VU

App. I

17.

Muntiacus muntjak

Kijang

LC

-

18.

Pteropus vampyrus

Kalong besar

NT

App. II

-

Aves

1.

Haliastur Indus

Elang

-

LC

-

2.

Halcyon cloris

Raja udang

-

LC

-

3.

Buceros bicornis

Rangkong

NT

App. I

4.

Anthracoceros malayanus

Enggang

-

NT

App. II

5.

Nectarinia jugularis

Sesep madu/Burung madu sriganti

LC

-

6.

Loriculus pusillus

Serindit

-

NT

-

7.

Picus vittatus

Belatuk kuning

-

LC

-

8.

Dryocopus javensis

Belatuk merah

-

LC

App. I

9.

Phodilus badius

Burung hantu

-

LC

-

10.

Treron vernans

Punai

-

LC

-

11.

Gracula religiosa

Beo

LC

App. II

12.

Psittacula alexandri

Betet

-

NT

App. II

13.

Corvus enca

Gagak

-

LC

-

14.

Pycnonotus goiavier

Kutilang

-

LC

-

15.

Centropus sinensis

Bubut

-

LC

-

16.

Copsychus saularis

Kucica

-

LC

-

17.

Delichon dasypus

Layang-layang

-

LC

-

18.

Pycnonotus zeylanicus

Sekarak

-

VU

App. II

19.

Seicercus castaniceps

Prenjak

-

LC

-

20.

Abroscopus supercillaris

Burung bawang

-

LC

-

21.

Hemipus picatus

Cicot

-

LC

-

22.

Accipiter soloensis

Elang alap cina

LC

App. II

23.

Spilornis cheela

Elang ular bido

LC

App. II

24.

Pernis ptilorhyncus

Sikep madu asia

LC

App. II

25.

Spizaetus cirrhatus

Elang brontok

LC

App. II

26.

Otus lempiji

Celepuk reban

-

LC

App. II

27.

Aceros corrugates

Julang jambul-hitam

NT

App. II

28.

Aceros undulates

Julang emas

LC

App. II

29.

Loriculus galgulus

Serindit melayu

-

LC

App. II

30.

Psittacula longicauda

Betet ekor panjang

-

NT

App. II

31.

Ceyx erithaca

Udang merah

LC

-

32.

Halcyon smyrnensis

Cekakak belukar

LC

App. II

33.

Pelargopsis capensis

Pekaka emas

LC

-

34.

Alcedo meninting

Raja udang meninting

LC

-

35.

Anthreptes malacensis

Burung madu kelapa

LC

-

36.

Anthreptes simplex

Burung madu polos

LC

-

37.

Anthreptes singalensis

Burung madu belukar

LC

-

38.

Arachnothera flavigaster

Pijantung tasmak

LC

-

39.

Arachnothera longirostra

Pijantung kecil

LC

-

40.

Arachnothera robusta

Pijantung besar

LC

-

Herpetofauna

1.

Batagur Basca

Kura-kura

CR

App. I

2.

Gonocephalus grandis

Bunglon

LC

-

3.

Crocodylus porosus

Buaya

LC

App. II

4.

Varanus salvatori

Biawak

-

LC

App. II

5.

Trimeresurus albolabris

Ular Hijau

-

LC

-

6.

Python reticulatus

Ular sanca/sawah

-

LC

App. II

7.

Gonyosoma axycephala

Ular Daun

-

LC

-

8.

Mabouya sp.

Bengkarung

-

LC

-

9.

Gekko sp.

Tokek Hutan

-

LC

-

10.

Naja sumatrana

Ular Sendok Sumatera

-

LC

App. II

11.

Varanus dumerii

Biawak Dumeril

-

-

App. II

Sumber     : Hasil identifikasi HCV PT Satria Perkasa Agung Tahun 2014 dan Dokumen RKL-RPL Tahun 2011 – 2015

Keterangan     : CR = Critically endangered (hampir punah), EN = Endangered (genting), VU = Vulnerable (rentan), LC = Least Concern (beresiko rendah), NT= Near Threatened (mendekati keterancaman), DD=Data Deficient (kurang data). CITES Appendix I = Jenis yang tidak boleh/dilarang diperdagangkan baik hidup/mati, Appendix II = Jenis dapat diperdagangkan dengan batasan kuota atas data akurat kecendrungan di alam.

 

c. Pengelolaan Limbah B3

Kegiatan pembangunan HTI di PT. Satria Perkasa Agung menimbulkan dampak positif dan negatif. Salah satu dampak yang terjadi akibat kegiatan ini adalah Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Apabila tidak dikelola dengan baik akan mengakibatkan pencemaran terhadap lingkungan dan mengganggu kelangsungan hidup mahluk hidup disekitarnya. PT. SPA sudah ada tempat penyimpanan Limbah B3 secara permanen, Pengelolaan Limbah B3 telah diatur dalam SOP-SPA-E2-008 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.

 

d. Pengelolaan dan Pemantauan NKT

Perusahaan telah melaksanakan identifikasi NKT yang dilakukan oleh konsultan APCS  (Asia Pacific Consulting Solution). Dari hasil identifikasi tersebut terdapat NKT pada areal kawasan PT. SPA baik itu NKT 1-6. Berikut disajikan tabel hasil identifikasi NKT.

Tabel Hasil  Identifikasi NKT PT SATRIA PERKASA AGUNG


Kategori Nilai Konservasi Tinggi

Sub-kategori

Deskripsi NKT

Temuan

NKT 1 –Kawasan yang Mempunyai Tingkat Keanekaragaman Hayati yang Penting

 

1.1

Kawasan yang Mempunyai atau Memberikan Fungsi Pendukung Keanekaragaman Hayati Bagi Kawasan Lindung dan/atau Konservasi

ADA

1.2

Spesies hampir punah

ADA

1.3

Kawasan yang Merupakan Habitat bagi Populasi Spesies yang Terancam, Penyebaran Terbatas atau Dilindungi yang Mampu Bertahan Hidup (Viable Population)

ADA

1.4

Kawasan yang Merupakan Habitat Bagi Spesies atau Sekumpulan Spesies yang Digunakan Secara Temporer

ADA

NKT 2 Kawasan Bentang Alam yang Penting Bagi Dinamika Ekologi Secara Alami

2.1

Kawasan Bentang Alam Luas yang Memiliki Kapasitas untuk Menjaga Proses dan Dinamika Ekologi Secara Alami

ADA

2.2

Kawasan Alam yang Berisi Dua atau Lebih Ekosistem dengan Garis Batas yang Tidak Terputus (berkesinambungan)

TIDAK ADA

2.3

Kawasan yang Mengandung Populasi dari Perwakilan Spesies Alami

ADA

NKT 3 – Kawasan yang Mempunyai Ekosistem Langka atau Terancam Punah

3

Kawasan yang Mempunyai Ekosistem Langka atau Terancam

Punah

ADA

NKT 4 – Kawasan Yang Menyediakan Jasa-jasa Lingkungan Alami

4.1

Kawasan atau Ekosistem Penting Sebagai Penyedia Air dan Pengendalian Banjir bagi Masyarakat Hilir

ADA

4.2

Kawasan yang Penting Bagi Pengendalian Erosi dan Sedimentasi

 

ADA

4.3

Kawasan yang Berfungsi Sebagai Sekat Alam untuk Mencegah Meluasnya Kebakaran Hutan dan Lahan

ADA

NKT 5 –Kawasan Alam yang empunyai Fungsi Penting untuk

Pemenuhan Kebutuhan Dasar Masyarakat Lokal

5

Kawasan Alam yang Mempunyai Fungsi Penting untuk Pemenuhan Kebutuhan Dasar Masyarakat Lokal

TIDAK ADA

NKT 6 – Kawasan yang Mempunyai Fungsi Penting Untuk Identitas Budaya Tradisional Komunitas Lokal

6

Kawasan yang Mempunyai Fungsi Penting Untuk Identitas Budaya Tradisional Komunitas Lokal

TIDAK ADA

e. Kegiatan Rehabilitasi

Komitmen perusahaan terhadap areal kawasan lindung adalah dengan menjaga dan merawat kawasan tersebut. Pengelolaan areal yang rusak pada kawasan lindung yaitu dengan dilakukan proses rehabilitasi. PT. SPA melakukan kegiatan rehabilitasi untuk areal-areal yang teridentifikasi terdegradasi.Hal ini bertujuan untuk menjaga kualitas kawasan lindung yang bernilai tinggi dapat terus terjaga dengan baik.

 

f. Perlindungan Hutan

Beberapa potensi gangguan terhadap kawasan hutan areal kerja adalah bahaya serangan hama dan penyakit, bahaya kebakaran hutan, bahaya pencurian kayu hutan tanaman, penebangan liar kayu alam di kawasan lindung, tanaman unggulan setempat dan tanaman kehidupan serta gangguan akibat tekanan terhadap lahan (konversi lahan).

 

g. Pengelolaan Gambut

APP membuat komitmen untuk mendukung Pemerintah Indonesia dalam pengembangan rendah emisi serta pengurangan emisi gas rumah kaca. Komponen utama dalam mencapai komitmen APP untuk melindungi lahan gambut dan memastikan bahwa APP dan para pemasoknya mengelola lahan gambut berdasarkan praktik terbaik. Pengembangan manajemen 'praktik terbaik' akan membantu dalam mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) atau  Green House Gas (GHG) dari lansekap lahan gambut dimana para pemasok kayu pulp kami beroperasi.

Sesuai dengan komitmen ini, para pemasok pulpwood APP menghentikan pengembangan penanaman, pembangunan kanal, dan infrastruktur lainnya dalamkonsesi pemasok di lahan gambut yang tidak berhutan sampai penilaian Nilai Konservasi Tinggi (NKT) selesaidengan memperhatikan masukan dari para ahli gambut. Rencana pembangunan apapun di masa mendatang di wilayah juga akan mengikuti praktik pengelolaan terbaik.

Pada bulan Januari 2014, APP membentuk Peat Expert Team (PET) untuk penyusunan pengelolaan “praktik terbaik” untuk lansekap gambut dimana para pemasok pulpwood APP beroperasi. PET memiliki anggota yang diakui secara internasional yaitu Wagenigen University di Belanda, Deltares dan Euroconsult Mott MacDonald, semua ahli ini memiliki pengalaman yang luas mengenai lahan gambut di Indonesia.

Dasar pengelolaan “praktek terbaik” ini adalah agar kita mempunyai pemahaman yang baik tentang sifat lahan gambut di lanskap tempat kita beroperasi. Kita melakukan LiDAR mapping (LIDAR adalah Light Detection And Ranging, metode survey udara yang menggunakan gelombang cahaya laser yang dapat mengukur jarak ke permukaan bumi. Gelombang cahaya laser dikombinasikan dengan data survey udara – menghasilkan data yang tepat tentang informasi tiga dimensi tentang bentuk bumi dan karakteristik permukaan bumi.)sebanyak 2 tahap. Tahap pertama selesai di tahun 2015 mencakup 4.5 juta hektar area di Sumatera dan Kalimantan.Dari hasil LiDAR pertama APP melakukan penon-aktifan (retire) area gambut di pemasoknya seluas 7,000 hektar dan membangun kanal untuk menjaga ketinggian permukaan air di lahan gambut.

Hasil LiDAR kedua selesai di tahun 2017, hasil pemetaan LiDAR kedua ini memberikan grid yang lebih halus dan resolusi tinggi serta zonasi air.Kami bekerjasama dengan Deltares masih melakukan kajian apakah LiDAR dapat digunakan sebagai alat monitoring permukaan air di lahan gambut.

Terkait dengan peraturan pemerintah yang baru tentang pengelolaan gambut, APP akan taat dan mengikuti peraturan tersebut dan melakukan revisi tata ruang UMH yang memiliki lahan gambut. Proses persetujuan tata ruang UMH yang baru dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia masih berlangsung.

h. Fire Management

Areal konsesi PT. SPA  keseluruhan berada pada zona basah (Gambut). Potensi bahaya kebakaran hutan di areal kerja tergolong cukup besar. Hal ini disebabkan oleh faktor iklim, kondisi lahan, dan faktor sosial. Dari faktor iklim dan kondisi lahan, walaupun secara makro areal kerja beriklim sangat basah, namun secara mikro (harian) memungkinkan kondisi kering yang beturut-turut selama beberapa hari. Hal ini cukup untuk membuat serasah dan gambut bagian atas untuk kering dan mudah terbakar.

Dari segi sosial, masyarakat yang sebagian diantaranya masih menerapkan sistem pembakaran untuk membuka lahan pada musim kemarau juga membawa potensi kebakaran. Potensi ini menjadi lebih besar lagi karena terdapat bagian areal hutan tanaman yang berbatasan langsung dengan lahan masyarakat. Oleh sebab itu, PT. SPA melakukan pendekatan-pendekatan secara sosial maupun secara teknis dilapangan.

PT. SPA memiliki Komitmen yang sangat serius terkait Kebakaran Hutan dan lahan, baik itu kebakaran yang terjadi didalam kawasan konsesi atau pun diluar kawasan konsesi yang diimplementasikan dalam sebuah Kebijakan Pencegahan KARHUTLA sebagai berikut:

  1. Mematuhi semua peraturan perundangan yang terkait  pencegahan kebakaran lahan dan hutan.
  2. Konsisten terhadap pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) dalam semua tahapan kegiatan pembangunan hutan tanaman.
  3. Melakukan perlindungan areal konsesi perusahaan dari bahaya kebakaran untuk memastikan   keberlanjutan usaha dalam jangka panjang dan kelestarian sumber daya alam.
  1. Secara terus menerus meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dan peralatan untuk pencegahan dan penanggulangan kebakaran lahan dan hutan.Secara aktif melibatkan semua karyawan, mitra kerja serta masyarakat di sekitar konsesi perusahaan untuk terus menerus melakukan pencegahan kebakaran lahan dan

Selain dari komitmen, untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan disekitar wilayah konsesinya, ASIA PULP & PAPER (APP) dan Sinarmas Forestry merancang sebuah sistem terintegrasi yang disebut dengan Integreted Fire Management (IFM). Terdapat 4 pilar utama dalam IFM ini, yaitu:

  1. Pencegahan
  • Program DMPA : Landasan utamanya adalah dengan memanfaatkan bidang agroforestri, masyarakat diarahkan dan dibina untuk berdaya dan sejahtera secara sosial-ekonomi dengan memanfaatkan sumber daya (alam dan manusia) yang sesuai dengan potensi dan karakteristik lokal.
  • Tata Kelola Air : Untuk mengurangi resiko kebakaran dilahan gambut APP dan SMF Group bekerjasama dalam memperbaiki tata kelola lahan gambut dengan cara menaikkan ketinggian air dikanal perimeter konsesi.
  • Insentif untuk Masyarakat Peduli Api (MPA) : Mengikut sertakan masyarakat sekitar konsesi HTI untuk melakukan patroli pencegahan kebakaran, selain sejumlah uang, masyarakat juga diberikan insentif berupa peralatan dan pelatihan dalam pemadaman kebakaran.
  1. Persiapan
  • Incident Command System (ICS) : Merupakan perangkat/sistem yang mengatur garis komando, perencanaan, operasi, logistik, dan administrasi dalam sebuah situasi darurat.
  • Situation Room Center (SRC) : Ruang kontrol yang melakukan deteksi dini kebakaran secara real time 24 jam non-stop diwilayah konsesi SMF Group melalui pengolahan data dari citra satelit yang diverifikasi oleh petugas lapangan.
  • Pemetaan Jalur Patroli : Intensitas patroli disesuaikan dengan informasi tentang potensi kebakaran dari situation room dan panduan FDRS dari gabungan data cuaca, angin, dan kelembaban udara.
  • Kesiagaan RPK : Personel RPK yang telah tersertifikasi Manggala Agni senantiasa bersiaga dipos pantau, tim RPK juga dilengkapi dengan mobil patroli, mobil pemadam kebakaran, dan pompa air.
  1. Deteksi Dini
  • Deteksi Wilayah Kebakaran : Deteksi dilakukan oleh tiap distrik diwilayah konsesi berdasarkan informasi yang didistribusikan oleh Situation Room. Hal ini untuk memastikan apakah hotspot tersebut adalah titi apai atau bukan, maka petugas mengecek langsung kelapangan.
  • Citra Thermal : Alat ini digunakan untuk mendeteksi titik titik api dilahan gambut. Bekerja dengan menangkap perbedaan suhu ekstrim dipermukan tanah. Begitu panas terdeteksi, maka sistem akan mengirimkan data real yang kemudian disatukan dalam petak konsesi sehingga lokasi titik apai akan langsung terlihat disistem.
  • Pemantauan dari Ketinggian : Dilakukan melalui Menara Api yang tersebar di 80 titik dengan ketinggian kurang lebih 30 meter.
  1. Respon Cepat
  • Komando dan Kontrol : Manajemen terpadu dalam menghadapi situasi darurat, dari mulai pihak Situation Room, Logistik peralatan, petugas RPK dilapangan, semua bergerak mengikuti garis komando yang telah ditetapkan.
  • Regu Pemadam Kebakaran (RPK) : Tim RPK secara intensif akan melakukan upaya pemadaman secara bergantian tanpa mengenal libur. Jika lokasi sulit dijangkau melalui jalan darat, akan dikirimkan tim pemadam kebakaran menggunakan helikopter.
  • Helikopter Water-boombing : Untuk menjangkau wilayah yang lebih sulit secara geografis, disediakan helikopter biasadan helikopter besar jenis Super Puma untuk melakukan Water-boombing diareal kebakaran.

 

ASPEK SOSIAL

1. Kondisi Desa

Secara umum desa-desa yang ada didalam dan sekitar operasional perusahaan memiliki potensi untuk dikembangkan terutama pada sektor pertanian, perkebunan dan hutan tanaman industri. Sumber penghasilan masyarakat desa berasal dari pertanian, perikanan, nelayan dan pengambilan hasil hutan. Komoditi yang banyak dibudidayakan masyarakat adalah tanaman padi, hortikultura dan tanaman perkebunan (karet dan sawit) dan sagu. PT. Satria Perkasa Agung memiliki Desa binaan meliputi : (1) Desa Pulau Muda, (2) Bukit Kerikil, (3) Sinar Danau. Program pembinaan masyarakat desa hutan masih difokuskan pada jenis kegiatan sosial budaya, peningkatan SDM, pertanian, pendidikan, keagamaan, dan sarana prasarana desa.

 

2. Pembangunan Sosial Masyarakat

Kegiatan pengelolaan hutan yang lestari hanya akan terwujud jika didukung tiga pilar kelestarian yaitu : kelestarian produksi, kelestarian lingkungan, dan kelestarian sosial. Terkait dengan kelestarian sosial perusahaan memiliki kebijakan pembangunan sosial masyarakat yang tertuang dalam program kelola sosial, berupa program pemberdayaan masyarakat desa sekitar hutan. Arah dari program tersebut adalah terjadinya minimasi konflik dengan masyarakat baik konflik pemanfaatan hasil hutan maupun konflik kawasan hutan, serta mendorong terciptanya kondisi masyarakat yang mandiri dalam membangun wilayah desanya.

Program Pemberdayaan Masyarakat PT. SPA diarahkan pada lima aspek kegiatan yaitu :

  1. Peningkatan SDM meliputi subsidi pendidikan, beasiswa, honor guru, ketrampilan, perlengkapan belajar mengajar.
  2. Peningkatan perekonomian dengan pengembangan sentra produksi pertanian, perikanan, peternakan dan wiraswasta di desa-desa sekitar konsesi sesuai potensi desa.
  3. Pembinaan sosial budaya meliputi pelayanan kesehatan, kegiatan sosial masyarakat, pemeliharaan lingkungan (penyiraman jalan lingkungan desa) dan peralatan olah raga.
  4. Kegiatan keagamaan meliputi peralatan ibadah, ceramah agama/safari dakwah di desa-desa sekitar.
  5. Pembangunan infrastruktur meliputi perbaikan jalan, partisipasi pembangunan gedung sekolah dan tempat ibadah.

Kegiatan pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk menciptakan hubungan yang harmonis dan mendatangkan konstribusi positip dari masyarakat pedesaan terhadap kelangsungan pembangunan HTI untuk jangka waktu panjang secara keseluruhan. Dilain pihak, pendapatan dan kesejahteraan masyarakat juga dapat turut terangkat secara kuantitas dengan terjadinya perubahan pola pertanian dan usaha tani masyarakat yang lebih maju lagi dari keadaan sebelumnya. Keberhasilan kegiatan pemberdayaan masyarakat tergantung dari tingkat kesungguhan masyarakat dalam menerima dan melaksanakan setiap aspek kegiatan di lapangan.

Berikut disajikan rencana kelola aspek sosial untuk tahun 2018, berdasarkan masukan-masukan dari masyarakat dan hasil kajian SIA PT. SPA.

3. Pemberdayaan Masyarakat melalui Kemitraan

Pengembangan kemitraan kehutanan merupakan suatu bentuk program pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan melalui kerja sama pengelolaan tanaman kehidupan dan kegiatan produktif lain dan dapat juga  sekaligus untuk menyelesaikan konflik lahan pada areal HTI. Kemitraan kehutanan diharapkan menjadi jalan tengah yang saling menguntungkan baik bagi pihak perusahaan maupun masyarakat setempat   (win-win solution).  Melalui kemitraan tersebut masyarakat (penggarap)  dapat tetap melaksanakan kegiatan pemanfaatan lahan/hutan di areal HTI dan memperoleh hasil dari kegiatan tersebut dan di sisi lain perusahaan juga dapat melaksanakan kegiatan pengelolaan hutan di areal kerjanya.

Alternatif pola kemitraan disesuaikan dengan kondisi setempat, kesepakatan antara pihak perusahaan dengan masyarakat serta mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.Tanaman kehidupan dapat berupa tanaman kehidupan kelola produksi (jenis tanaman pokok), kelola lingkungan maupun kelola sosial.Tanaman kehidupan kelola produksi dilaksanakan pada areal non konflik di areal IUPHHK yang berbatasan dengan areal pertanian masyarakat di luar IUPHHK.Tanaman kehidupan kelola produksi dilaksanakan melalui pengembangan Hutan Tanaman Pola Kemitraan (HTPK). Yakni pengembangan tanaman pokok HTI pada areal kerja sama dengan pola bagi hasil yang disepakati.

Tanaman kehidupan kelola lingkungan dilaksanakan pada areal berhutan dan/atau areal yang memiliki fungsi lindung gambut atau fungsi lindung lainnya. Kerja sama antara perusahaan dengan masyarakat meliputi kerja sama pengamanan serta pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK).  Tanaman kehidupan kelola sosial berupa pengembangan tanaman keras/tahunan yang biasa diusahakan masyarakat seperti jelutung, karet, jengkol, atau jenis lain yang diperbolehkan dikembangkan di kawasan hutan.

Program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan perusahaan dikelompokan menjadi beberapa bidang kegiatan diantaranya, bidang ekonomi produktif, sosial budaya, keagaman, pendidikan, dan kesehatan.  Jenis kegiatan yang dilaksanakan didasarkan pada identifikasi permasalahan dan kebutuhan pengembangan bersama masyarakat desa binaan.

Pola pembinaan yang dilakukan oleh perusahan dalam kaitannya dengan program CSR digunakan beberapa pola pembinaan yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masyarakat serta disepakati antara perusahaan dengan masyarakat. Pola pembinaan yang biasa dilakukan antara lain  berupa bantuan murni/hibah/charity. Sementara untuk kegiatan ekonomi & usaha produktif  biasanya diberlakukan pola pembinaan sistem kemitraan/kerjasama dan pola modal bergulir

Program pemberdayaan yang juga dikembangkan oleh perusanaan adalah Program DMPA (Desa Makmur Peduli Api) yang mengedepankan kolabrorasi dari berbagai pemangku kepentingan, antara lain masyarakat, perusahaan, pemerintah setempat, lembaga desa (Bumdes) dan juga akademisi.Program Desa Mandiri Peduli Api (DMPA) ini sebagai insentif bagi masyarakat yang berpartisipasi dalam penanggualangan kebakaran hutan dan lahan.Dengan demikian diharapkan kelompok-kelompok masyarakat di sekitar hutan terdorong untuk berpartisipasi aktif dalam penanggulangan kebakaran hutan dan sekalus upaya-upaya peningkatan kesejahteraan mereka melalui berbagai program dan kesempatan yang tersedia di perusahaan.

Terkait dengan upaya-upaya resolusi konflik dan benturan dengan kelompok masyarakat, perusahaan mengutamakan penyelesaian melalui pendekatan persuasif, menghindari kekerasan, dan sedapat mungkin mengakomodasi dan/atau memberikan kompensasi kepada masyarakat sesuai dengan kesepakatan antara perusahaan dengan masyarakat. Dalam hal upaya penyelesaian secara persuasif tidak dapat diterima oleh masyarakat maka akan dilakukan alternative pendekatan lain danterutama untuk konflik spekulan tidak menutup kemungkinan penggunaan pendekatan legal formal sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.